KARANGTALUN — Di tengah masifnya gempuran musik modern dan modifikasi aransemen masa kini, keotentikan Seni Terbang Marga Laras di Dusun Karangtalun tetap berdiri kokoh. Kelompok kesenian tradisional ini memilih untuk bertahan pada kemurnian lagu-lagu aslinya, tanpa menggubah lagu maupun mengadopsi lagu-lagu populer baru demi menjaga nilai sakral dan sejarah yang dikandungnya.
Seni Terbang Marga Laras dipandegani oleh grup beranggotakan sembilan orang penabuh dan pengrawit. Untuk menghasilkan perpaduan irama yang harmonis dan khas, kelompok ini mengandalkan sederet instrumen musik ritmis tradisional, meliputi kendang, kempul, kethuk, kentrung, hingga bass/jedor.
 |
| Marga Laras |
Berakar Kuat hingga Adegan Mbarang Terbang dalam Kisah Panji
Eksistensi seni terbang di wilayah ini ternyata memiliki akar kebudayaan yang amat dalam dan berkelindan erat dengan tradisi lisan adiluhung, salah satunya Wayang Beber. Dalam narasi klasik Cerita Panji yang tertuang pada gulungan Wayang Beber, jejak keberadaan seni terbang sudah tersurat sejak masa silam melalui babak "mbarang terbang"—sebuah adegan penyamaran tokoh Panji yang mengelana sembari menabuh terbang dari satu tempat ke tempat lain. Korelasi ini menjadi bukti historis bahwa seni terbang bukan sekadar hiburan baru, melainkan media pertunjukan bernilai spritual dan kultural yang telah mengakar kuat dalam peradaban masyarakat Jawa sejak era klasik hingga bertransformasi menjadi sarana syiar dan tradisi dusun saat ini.
Jejak Sejarah dan Kebangkitan Kembali
Eksistensi Seni Terbang di Dusun Karangtalun sebenarnya telah mengakar sejak lama. Namun, keberadaannya sempat redup dan mengalami masa vakum selama beberapa tahun hingga nyaris punah.
Titik balik kesenian ini terjadi pada tahun 2006. Diprakarsai oleh kepedulian mendiang Alm. Bapak Yusuf, Seni Terbang Karangtalun kembali dihidupkan dan dihimpun ulang dalam satu wadah bernama Marga Laras. Sepeninggal Alm. Bapak Yusuf, estafet kepemimpinan dan dedikasi merawat tradisi tersebut dilanjutkan oleh Bapak Suyatno, yang kini memimpin serta membina Seni Terbang Marga Laras agar terus bergema di tengah masyarakat.
Dari Lisan ke Buku: Menjaga Keaslian Syair
Salah satu keunikan utama dari Seni Terbang Marga Laras terletak pada syair-syairnya yang memadukan lafal sholawat/bahasa Arab dengan lirik bahasa Jawa bermuatan ajaran religi dan moral. Pada masa lalu, lagu-lagu ini diwariskan secara lisan dari mulut ke mulut, sehingga beberapa kata mengalami penyesuaian lafal akibat pengucapan dialek lokal.
Kini, seluruh syair dan urutan lagu telah berhasil ditranskrip dan dibukukan secara rapi. Kehadiran buku transkrip ini menjadi panduan baku yang memastikan setiap tembang dibawakan sesuai pakem dan urutan aslinya.
Pengiring Setia Ritus Hajatan Warga
Lantunan tembang dari Seni Terbang Marga Laras bukan sekadar hiburan, melainkan bagian penting dari doa dan rasa syukur warga Dusun Karangtalun. Kesenian ini rutin dipentaskan untuk mengiringi berbagai hajatan tradisi lokal, seperti:
- Tingkeban / Mitoni (syukuran tujuh/sembilan bulan kehamilan)
- Kething-kething & Sepasaran Bayi (tradisi penyambutan kelahiran dan pemotongan rambut bayi)
- Sunatan / Khatanan
- Ngunggahne Penuwun (doa syukuran menempati atau mendirikan rumah baru)
- Hajatan dan ritual adat dusun lainnya
Dengan komitmen sembilan anggotanya serta kepemimpinan Bapak Suyatno, Seni Terbang Marga Laras Karangtalun membuktikan bahwa tradisi masa lalu tetap bisa terus hidup, menjadi pilar keharmonisan, dan memberi warna spiritual bagi kehidupan masyarakat desa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar