BERSIH DUSUN KARANGTALUN— Seperti halnya tradisi masyarakat pedesaan Jawa pada umumnya, Dusun Karangtalun, Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo, senantiasa menjaga warisan leluhur melalui upacara adat Bersih Dusun. Ritual tahunan ini secara konsisten diselenggarakan setiap Senin Kliwon pada Bulan Besar (Zulhijah) sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan warga.
Seiring berjalannya waktu, tata cara pelaksanaan ritual ini mengalami pergeseran nilai spiritual. Praktik pemujaan atau ritual terhadap Resan, Danyang, maupun Prayangan yang dipercaya sebagai pembahu reksa (pelindung) dusun kini telah sepenuhnya ditinggalkan. Meski demikian, esensi kebersamaan dan tradisi sosial selama dua hari pelaksanaan upacara tetap dilestarikan.
Hari Pertama: Kerja Bakti, Dupa Kemukus, dan Tirakatan
Pada masa lalu, rangkaian upacara diawali pada hari pertama di pagi hari dengan aksi kerja bakti massal. Seluruh warga bahu-membahu pertama-tama membersihkan lokasi Resan (sekarang berada di lingkungan SMPN 4 Satu Atap Donorojo) kemudian dilanjutkan ke area sumber air dan kawasan Telaga Ndawe.
Di lokasi Resan tersebut, dulunya terdapat empat pohon kayu besar yang dikenal sebagai Kayu Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong—simbol cikal bakal Dusun Karangtalun). Di sanalah pusat pembakaran dupa kemenyan serta peletakan sesajian panjang ilang yang terbuat dari anyaman janur kelapa.
Memasuki malam hari, warga berkumpul di kediaman Kamituo (Kepala Dusun) untuk menggelar tirakatan. Sementara kaum pria bertirakat, para ibu disibukkan dengan aktivitas dapur menyiapkan hidangan khas berupa punten (olahan nasi gurih berbumbu parutan kelapa) dan memanggang ayam. Menjelang fajar tiba, punten tersebut kemudian dibagikan kepada seluruh warga dusun.
![]() |
| Bersih Dusun Karangtalun 2026 |
Pada malam kedua, suasana tirakatan berlangsung lebih khidmat. Pada momentum inilah sesepuh dusun memberikan ular-ular—yaitu wejangan dan nasihat kehidupan—kepada seluruh warga.
Ubo rampe atau sesajen ditempatkan di atas meja bundar besar, dengan beraneka ragam sajian yang ditata sedemikian rupa, seperti daun andong, puring, panggang ayam, jenang, serta makanan tradisional lainnya.
Salah satu hal paling unik yang menjadi sajian utama pada malam kedua ini adalah keberadaan hidangan tradisional Jadah Ketan Jojohan (putih) dan Wajik (gula merah)—yang diyakini sebagai simbol kebangsaan Merah-Putih. Uniknya, kedua makanan ini dibentuk menyerupai tumpeng dengan wadah kukusan yang terbuat dari gedebok (batang) pisang.
Meski hanya disajikan dalam satu wadah kukusan, hidangan ini secara ajaib selalu mencukupi dan terbagi rata untuk seluruh warga dusun. Di balik proses pembuatannya, terdapat aturan adat yang sangat ketat:
Syarat Pembuat: Juru masak (ibu-ibu) yang mengolah hidangan ini wajib kaum perempuan yang sudah suci atau bebas dari menstruasi (menopause).
Bahan Kayu Bakar: Kayu yang digunakan untuk memasak harus berasal dari kayu nggarang, yaitu kayu dari pohon yang telah mati secara alami di tempatnya (mati di pohon).
Pergeseran Zaman dan Bentuk Syukuran Saat Ini
Memasuki era modern, pelaksanaan upacara adat yang penuh dengan simbol-simbol kuno tersebut kini telah diringkas dan disesuaikan.
Saat ini, ritual adat tradisi Bersih Dusun Karangtalun dikemas dalam bentuk kegiatan doa bersama (istigasah/pengajian) yang dipusatkan di Balai Dusun atau Sanggar Wayang Beber
Selain memohon kebaikan bagi seluruh warga, momentum doa bersama ini juga diisi dengan memanjatkan doa khusus kepada para leluhur, terutama para cikal bakal atau tokoh perintis yang pertama kali mbedah (membuka lahan) Dusun Karangtalun. Penghormatan dan doa ini dipanjatkan sebagai bentuk rasa terima kasih atas jasa para pendahulu yang telah berjuang membuka wilayah, hingga Karangtalun berkembang menjadi pemukiman yang aman, tenteram, dan lestari hingga saat ini.
.png)